Kamis, 01 Mei 2014

Tanpa Rusia, Misi Antariksa AS dan Uni Eropa Terhambat

Roket SoyuzWidanaNews - Apabila Rusia memboikot misi luar angkasa akibat krisis Ukraina, hasilnya akan dramatis bagi Amerika Serikat dan Eropa. Tanpa teknologi Rusia, misi antariksa negara-negara barat tidak dapat berjalan lancar.

Setelah Amerika Serikat memuseumkan armada pesawat antariksanya tahun 2011 lalu, hanya kapsul Rusia yang melintasi jarak sejauh 400 kilometer untuk mengangkut awak stasiun luar angkasa internasional ISS. Setidaknya hingga tahun 2017 tidak akan ada perubahan. NASA belum siap kembali membangun pesawat luar angkasa yang bisa melewati perjalanan itu.

Kalau kerjasama dengan Rusia tiba-tiba berhenti, bisa dibilang misi ISS pun akan berakhir. Astronot-astronot Eropa dan Amerika Serikat tidak bisa lagi pergi ke luar angkasa, dan Rusia akan kehilangan dukungan teknis dan finansial dari Amerika yang memfasilitasi komunikasi, peralatan dan pengawasan material untuk ISS.

NASA membayar sekitar 70 juta Dolar untuk perjalanan setiap astronot dengan roket Soyuz. Aliran dana bagi Rusia ini harus disetujui per kasus oleh Kongres Amerika Serikat. Pada sidang dengar kongres terakhir, kepala NASA Charles Bolden mengatakan bahwa perjalanan ke ISS bukan hanya rutinitas namun juga berharga bagi misi antariksa mendatang.

Di ISS, NASA menguji coba material baru bagi misi ke bulan dan kemungkinan ke Mars, sementara astronot Amerika mempelajari keahlian medis baru. Januari 2014 Presiden Barack Obama menyatakan bahwa Amerika akan terus terlibat dalam misi ISS untuk setidaknya 10 tahun ke depan, dan sejauh mungkin dalam kerjasama dengan Rusia, Eropa, Jepang dan Kanada.

Selain ISS, tidak ada proyek bersama lainnya antara Amerika dan Rusia di luar angkasa. Ini berarti tidak ada misi bersama ke bulan atau target lainnya di tata surya. Namun untuk meluncurkan satelit, Amerika Serikat sangat tergantung pada teknologi Rusia. Roket Atlas V, salah satu 'pekerja keras' dalam program antariksa AS, menggunakan mesin buatan Rusia.

Amerika Serikat juga tergantung pada teknologi Rusia apabila menyangkut pada sistem baru untuk mengangkut muatan ke luar angkasa. Setelah mengakhiri peluncuran pesawat antariksanya, NASA beralih ke perusahaan-perusahaan swasta untuk memberi suplai dan menjalani eksperimen ilmiah di ISS. Namun pesawat kargo Amerika, Cygnus, beroperasi menggunakan roket Antares, yang sebagian dibuat di wilayah Ukraina yang condong ke Rusia.

Kalau sampai Amerika Serikat mengurangi kerjasama dengan Rusia, Eropa tidak akan mampu mengisi kekosongan. Pesawat kargo ATV milik Badan Antariksa Eropa ESA hanya akan terbang sekali lagi ke ISS dan tidak akan dibangun kembali, dan Eropa belum pernah membuat sendiri pesawat antariksa berawak. Walau roket Ariane milik Eropa sudah terbukti dapat diandalkan, roket ini tidak akan mampu membawa awak ke luar angkasa.

Sementara pakar geofisika Jerman Alexander Gerst saat ini tengah berlatih di Rusia untuk ekspedisinya ke ISS. Akhir bulan Mei, ia akan memulai gilirannya mengawaki ISS selama 6 bulan - walau ini hanya akan terjadi apabila Eropa dan Rusia melanjutkan kerjasama luar angkasa mereka.

Setelah NASA secara mendadak mundur dari proyek bersama ExoMars tahun 2012, Rusia langsung mengambil alih. Kini ESA membutuhkan bantuan Rusia untuk mendarat di Mars dalam upaya mencari jejak kehidupan dengan menggunakan laboratorium riset otonom.

Cina menjadi satu-satunya alternatif kalau berbicara tentang misi antariksa berawak, namun negara ini tidak ikut dalam misi ISS. Bagi pelaku politik garis keras di Eropa dan Amerika Serikat, beralih dari teknologi Rusia ke Cina justru memperburuk situasi.

Astronot NASA Reid Wiseman, yang akan terbang ke ISS bersama Gerst dan Maxim Suraev dari Rusia, telah memuji keramahtamahan Rusia dan pelatihan yang sangat profesional yang ia dapat di Rusia. Wiseman mengatakan begitu mereka bertolak, mereka akan pergi sebagai 'tiga teman' menuju luar angkasa.

Sumber : DW.DE

0 komentar:

Posting Komentar