Kamis, 31 Oktober 2013

Obon, Perayaan Arwah dari Jepang

Hari raya yang berhubungan dengan para arwah, dunia orang mati bukan Halloween semata. Bagian-bagian dunia tertentu juga memiliki perayaan sendiri yang serupa.

Obon  (お盆) adalah upacara peringatan arwah di Jepang. Obon merupakan bentuk singkat dari istilah agama Buddha Ullambana Sutra, dan lidah orang Jepang menyebutnya Urabon (盂蘭盆, Urabon /urabana yang artinya ‘digantung terbalik’, pederitaan yang sangat mendalam).  Tapi kemudian yang diambil hanya aksara Kanji terakhirnya saja (盆, bon, nampan) ditambah awalan honorifik huruf “O.”

 
 
 
Perayaan Obon berdasar pada kisah Buddha dan muridnya. Alkisah salah seorang dari 10 murid utama Budha, orang suci Mokuren, dengan kemampuan ajaibnya mencoba melihat keadaan kedua orangtuanya. Didapatinya, ibunya telah terlahir kembali ke dunia hantu lapar, tidak bisa makan-minum, bentuknya pun tinggal tulang dan kulit saja.

Mokuren tentu saja merasa sangat sedih. Sambil menangis dia datang mengadu kepada Buddha. Buddha memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan sembahyangan arwah dengan sesajen berikut ini agar arwah leluhur dapat diselamatkan dari siksaan neraka. Sesajennya berupa  makanan yg terbuat dari bahan-bahan dari darat dan laut kepada kawan-kawan biksunya pada hari terakhir pertapaan mereka (yang berlangsung selama 90 hari dan berakhir pada pertengahan bulan Juli).

Setelah memenuhi perintah dari Shakyamuni, Mokuren menari penuh kegembiraan saat ibunya dan 7 generasi nenek moyangnya dibebaskan dari semua siksaan. Tarian inilah yg kemudian diadopsi menjadi tarian Bon Odori. Dan itulah asal mulanya upacara peringatan arwah Obon.

Pada mulanya, Obon berarti meletakkan nampan berisi barang-barang persembahan untuk para arwah. Selanjutnya, Obon berkembang menjadi istilah bagi arwah orang meninggal (shōrō) yang diupacarakan dan dimanjakan dengan berbagai barang persembahan. Di daerah tertentu, Bonsama atau Oshorosama adalah sebutan untuk arwah orang meninggal yang datang semasa perayaan Obon.

Asal-usul tradisi Obon di Jepang tidak diketahui secara pasti. Tradisi memperingati arwah leluhur di musim panas konon sudah ada di Jepang sejak sekitar abad ke-8.
 

Di  beberapa prefektur, Obon jadi tambah meriah dengan melarungkan lampion di sungai
 
 
Awalnya, Obon  dirayakan tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō (kalender lunisolar). Namun terjadi perubahan secara perlahan-lahan ketika Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sejak tanggal 1 Januari 1873. Di wilayah (prefektur) yang satu dengan lain jadi tidak serempak. Ada yang mengikuti perhitungan Tempo dan ada yang mendasarinya pada kalender Gregorian.

Pada akhirnya, orang Jepang yang merayakan Obon pada tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō semakin sedikit, sebaliknya bergeser ke tanggal 15 Agustus. Faktor penyebabnya karena:

1. 15 Agustus menurut kalender Gregorian mengikuti perhitungan Tsukiokure (tanggal pada kalender Gregorian selalu lebih lambat 1 bulan dari kalender Tempō).

2. Pada tanggal 13 Juli 1873 pemerintah daerah Prefektur Yamanashi dan Prefektur Niigata sudah menyarankan agar orang tidak lagi merayakan Obon pada tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō.
 
3. Media massa memberitakan perayaan Obon pada tanggal 15 Agustus sehingga orang di seluruh Jepang menjadi ikut-ikutan merayakan Obon pada tanggal 15 Agustus.




Bon Odori
Acara menari bersama yang disebut Bon Odori (盆踊り, Bon Odori, tari Obon) dilangsungkan sebagai penutup perayaan Obon. Pada umumnya, Bon Odori ditarikan bersama-sama tanpa mengenal jenis kelamin dan usia di lingkungan kuil agama Buddha atau Shinto. Konon gerakan dalam Bon Odori meniru arwah leluhur yang menari gembira setelah lepas dari hukuman kejam di neraka.

 
Menari bersama, Bon-Odori
 
Bon Odori merupakan puncak dari semua festival musim panas (matsuri) yang diadakan di Jepang. Belakangan ini, Bon Odori tidak hanya diselenggarakan di lingkungan kuil saja,  Bon Odori sering dilangsungkan di tanah lapang, di depan stasiun kereta api atau di ruang-ruang terbuka tempat orang banyak berkumpul.

Di tengah-tengah ruang terbuka, penyelenggara mendirikan panggung yang disebut Yagura untuk penyanyi dan pemain musik yang mengiringi Bon Odori. Penyelenggara juga sering mengundang pasar kaget untuk menciptakan keramaian agar penduduk yang tinggal di sekitarnya mau datang. Bon Odori juga sering digunakan sebagai sarana reuni dengan orang-orang sekampung halaman yang pergi merantau dan pulang ke kampung untuk merayakan Obon.



















Sumber:
akemapa
j-cul

0 komentar:

Posting Komentar